Showing posts with label Tazkirah. Show all posts
Showing posts with label Tazkirah. Show all posts

Monday, August 01, 2011

PINTA SANG HAMBA

Seorang hamba yang sedang berada dalam keadaan membutuhkan hajat, dianjurkan untuk menghiba kepada Allah SWTdan memintaNya demi memenuhi hajatnya dengan penuh ketundukan, kefakiran dan rasa hiba.

Seandainya Anda biasa pergi mencari orang lain untuk menyelesaikan permasalahan Anda, tidakkah Anda akan pergi menuju Rabb segala manusia?!

Seandainya Anda biasa mengetuk pintu orang, tidakkah Anda juga akan mengetuk pintu Ar-Rahmaan?

Mengapa begitu? Saya khawatir ini kali pertama Anda membaca kata-kata tersebut!

Ya, saya takut jangan-jangan inilah kali pertama Anda mengenal apa yang disebut "Solat Hajat"! Mengapa saya lihat Anda masih terdiam? Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan, "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian melaksanakan dua rakaat solat dengan sesempurna mungkin, Allah akan memberi apa yang ia minta, baik dengan segera maupun dengan ditunda." (HR Ahmad)

Kemudian setelah selesai solat, Anda membaca doa berikut:
"Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Mulia dan Penyantun. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam Yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Rabb serta sekalian alam. Aku memohon kepadaMu: curahan rahmat dan ampunanMu, kebaikan, terbebas dari segala dosa. Jangan Kau tinggalkan kesedihan untukku, kecuali Engkau memberi jalan keluarnya. Dan jangan Kau tinggalkan hajatku yang Engkau ridhai, kecuali Engkau penuhinya, wahai Dzat Yang Paling Mengasihi."

Para ulama mengatakan, "Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian melakukan solat sunat dua rakaat dengan khusyuk dan penuh konsentrasi dengan Allah, lalu ia berdoa seraya yakin akan terkabulnya doa tersebut, Allah pasti akan mengabulkannya."

Saya merasa Anda sekarang telah menemukan harta karun itu! Ya saudaraku, harta karun itu telah ada sejak lama, namun Anda tengah terhalang untuk melihatnya... Bersemangatlah sekarang untuk meraupnya, jangan puas hanya dengan melihat!

(Rujukan buku: Amru Khalid, "Ibadatul Mukmin". Terjemahan Bahasa Indonesianya: Saiful Haq, "Ibadah Sepenuh Hati", Aqwam Jambatan Ilmu, 2006, Solo, Indonesia. m/s: 64-66 )


Sesungguhnya,
Aku hanyalah insan biasa.
Mereka mengharap sesuatu yang luar biasa.
Aku tidak mampu memberikannya.
Aku bukan insan luar biasa.
Maaf.

Tika itu,
Doa dipanjatkan pabila menunaikan,
Solat Hajat, Solat Istikharoh,
Solat Taubat, Solat Witir,
Solat Terawikh, Solat-solat Fardhu,
Meminta.
Merayu dan mengharap.
Supaya diberi.
Qalban khosyi'a.
Yaqeenan sodiqo.
Ilman nafii'a.
Tamamal ghina 'anin naas.
Doa yang dibaca usai membaca zikir harian Al Ma'thurat..

Aku terlepas pandang.
Di samping ujian yang berliku dan penuh dengan pancaroba.
Dia telah memberikanku pelbagai nikmat dan peluang.. (^_^)

ALHAMDULILLAHI RABBIL 'ALAMIN.
Lihat apa yang kita ada dan dapat,
Jangan fikir yang bukan-bukan.
Yakinlah!
Dia telah menempatkan kita di tempat yang dikehendakiNya!
InsyaAllah!

2 Ramadhan 1432H
Isnin
2158

Tuesday, April 26, 2011

HAZA MIN FADHLI RABBI


27:40
Said one who had knowledge from the Scripture, "I will bring it to you before your glance returns to you." And when [Solomon] saw it placed before him, he said, "This is from the favor of my Lord to test me whether I will be grateful or ungrateful. And whoever is grateful - his gratitude is only for [the benefit of] himself. And whoever is ungrateful - then indeed, my Lord is Free of need and Generous." An Naml, 27:40 (
Sahih International)



Subhanallah...

What a challenge
What a test

Ya Rabbi
What sins have I done?
What did I do to get such test?

He knows what's best
I believe so

Yes,
He was actually revealing to me
Have I said Alhamdulillah?
Have I thanked Him?
Have I shown how grateful I am?
Have I done what I am supposed to be doing?

Oh Allah,
Alhamdulillah..
Thank you Allah...

Oh Allah,
Forgive me...
Forgive them...
Forgive and forget...


27:19


So [Solomon] smiled, amused at her speech, and said, "My Lord, enable me to be grateful for Your favor which You have bestowed upon me and upon my parents and to do righteousness of which You approve. And admit me by Your mercy into [the ranks of] Your righteous servants." An Naml, 27:19 (Sahih International)

Thanks to you....

Wednesday, April 20, 2011

A VERY GOOD MOTIVATIONAL SPIRITUAL TALK

Assalamualaikum,

Last Tuesday I went to listen to a talk by Prof Muhd Kamil Ibrahim.

He shared his story, and other people's stories where they were once laughed because of their weird impossible ambitions. But at the end, they made what they've dreamed a reality. Even Prof was included in the list.

Mohandas Nagappan : The first Malaysian to be on top of Everest Mountain
Sharifah Mazlina: The first Asian women to complete Pole to Pole mission across Antarctica
Chef wan: famous chef in Malaysia...
Prof Kamil: author of Travelog Haji best seller book

The keys to success as mentioned by Prof:
1. DREAM
2. PASSION
3. BRAVE
4. BELIEVE

Mohandas Nagappan was once laughed when he answered "Climbing the Mount Everest" after being asked by his school teacher. Any WEIRD dream would be laughed by family members, friends, and aundiences. But with his dream and the other 3 keys of success, he worked hard by climbing all the high mountains all over the world and finally he became one of the first Malaysian to land on Mount Everest!

Sharifah Mazlina was said to be crazy to make a statement to ski across the Antartica. Even Prof Kamil felt the same way. But she made it in the end!!! And she became the first Asian woman to make the record of complete mission pole to pole of Antartica.

Chef Wan had difficult life when he was young. He was the eldest in the family out of a number of of siblings. His father was a policemen and there was not enough money to support the whole family. Chef Wan was given only RM5 each month at school. He offered wash other students' clothes to get extra money but he was caught by the warden to break the curfew time. Anyways, he took Diploma/Degree in Accounting and later became famous as a chef! :) However, he's a very noble person by sponsoring the poorest couple in his village to go for Hajj and give charity to the orphanage home in his village. Subhanallah!

Prof Kamil had a bit of similarities of the storyline as the others as well. I though he was smart since he was young. But he showed his SPM results and it was very bad! Most of them were C. hehe. He was determined to make a comeback after his failure to go to UK to take law. He took Diploma in Accountancy at UiTM and became THE BEST STUDENT!!!! 2nd BEST STUDENT for Degree of Accountancy. He did his Master finished by 1 1/2 year and PhD was finished by 2 1/2 year!!! :) Subhanallah!

The success of a person does not depend on his intelligence solely, but also in the mind!!! DREAM, PASSION, BRAVE, BELIEVE... it's all in the mind.. and not physically available to read on... :)

Last example given by Prof was a story of a weight lifter who already made a record of lifting 210kg. His coach wanted him to increase the weight up to 220kg. The weight lifter failed after several attempts. The next day, the coach had already put 220kg on the weight and said to his trainee, "Lift this 210kg weight first". The trainee could lift the weight!!! How? He had already mindset he could only lift 210kg, but actually the weight was 220kg and not realising it, because he was told by the coach it's only 210kg.

2nd last example, Prof Kamil was told that it'll be hot in Mecca during the Hajj, but he made doa and mindset that the Masjidil Haraam is cool. Alhamdulillah, the cool air filled his jubah when he prayed in the middle of Masjidil Haram during Zuhr prayer at 50 degree Celcius.

WALLAHUA'LAM
A tazkeerah and motivational talk for us all..

Friday, April 15, 2011

JUMU'AH SA'EEDAH

SUBHANALLAH!
ALHAMDULILLAH!
ALLAHUAKBAR!

Alhamdulillah!!!
Syukur Ya Allah!
Syukur Ya Allah!
Syukur Ya Allah!

At last,
I've found it!
I made it!
I'm happy for it!

"Doa dan mohonlah kepada Allah walaupun perkara itu nampak remeh.
Dia Maha Berkuasa, Maha Mengetahui, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Bijaksana."
Prof Dr Muhd Kamil Ibrahim

Friday, April 02, 2010

CERITA BEST

Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.

Aku hanya seorang Insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.

Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.

Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.

Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.

"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"

Aku menjawab tenang.. "Warna putih, bersih..."

"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."

"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."

Ibu angguk perlahan.

Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah. Malam Pertama... Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.

Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.

"Kak Insyirah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"

Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.

"Insya Allah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."

Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.

"Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!"

Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.

"Bila enti menikah?"

Aku tiada jawapan khusus.

"Insya Allah, tiba waktunya nanti enti akan tahu..." Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.

"Jemput ana tau!" Khalilah tersenyum megah.

"Kalau enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!" Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.

"Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."

Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...

"Usah berlebihan ya..."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.

"Insyirah, jom makan!"

Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

"Tafaddal, ana puasa."

Sahabiah juga semakin galak mengusik.

"Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"

"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."

Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.

............ ......... ......... .........

"innalillahi wainna ilaihi rajiun..."

"Tenangnya... Subhanallah. Allahuakbar."

"Ya Allah, tenangnya..."

"Moga Allah memberkatinya. ..."

Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.

Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.
Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.
Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.

Dalam sedar tidak sedar...

Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.

"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."

Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...

"Insyirah bertunang dengan siapa, mak cik?"

Ibu tenang menjawab... "Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Insyirah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."

"Allahuakbar. .." Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.

"Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."

Ibu angguk, tersenyum lembut... "Ini nak, bukunya." Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.

"Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis... Khalilah tak tahu mak cik."

"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu Insyirah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan.. ."

Khalilah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.

"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil 'ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."

* Kisah ini bukan kisah ana (Insyirah), ianya kisah KITA (semua yang sedang membaca/tak) *

Mulai hari ini, jangan bersoal tika melihat ana memakai cincin. Kerana, ana sudah bertunang! Bertunang dengan kematian, tidak tahu bila ana akan dinikahkan dan tidak tahu bagaimana rezeki di malam pertama. Tetapi, sekurang-kurangnya apabila sudah dirisik dan bertunang, kita sama-sama akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya walaupun bukan yang terbaik untuk hari pernikahan dengan KEMATIAN. Wallahua'lam.

Cukuplah kematian itu mengingatkan kita... Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada. Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih tak berharga.

Setidak-tidaknya, Insyirah (watak di atas) sudah 'membeli' baju pernikahannya. ..

~ Kullu nafsin za'iqatul maut ~

Insyirah Soleha,
19 Januari 2010
Baiti

Monday, March 15, 2010

TAZKIRAH

ISTERI SOLEHAH PASTI PELIHARA 10 SIFAT
Oleh: Dr Hafidzah Mustakim

DALAM satu program wanita, seorang ibu berumur lewat usia 40-an berbual mesra sambil bertanya kepada saya: “Diam tak diam, saya dah nak dapat menantu lelaki. Along Hasanah akan berkahwin bulan depan, kita ni terlalu sibuk dengan kerjaya dan kehidupan, sehingga tidak perasan anak dah semakin besar dan akan berumah tangga.”Saya membalas : “Kita perlu mengingat dan membekalkan nasihat yang pernah kita peroleh dulu daripada orang berpengalaman dan berilmu kepada mereka."

Dulu pernah mendengar, pada masa mula-mula hendak kahwin. Tetapi, apa salahnya kita dengar untuk kesekian kalinya. Ia menjadi kata-kata hikmat dan pengajaran yang lebih bermakna. Kita dan ramai kawan masa muda-muda masih ingat nasihat itu.”Perbualan saya dengan wanita itu mengingatkan kepada wasiat seorang ibu solehah pada zaman kegemilangan Islam.

Mari hayati pesanan isteri ‘Auf bin Muhlim Ashaibani kepada puterinya ketika hendak bernikah dengan al Haris bin Amr, raja negeri Kandah. Sewaktu utusan diraja hendak membawa pengantin untuk disampaikan kepada raja, ibunya berwasiat kepada anak perempuannya:“Wahai anakku! Kalaulah wasiat ini untuk kesempurnaan adabmu, aku percaya kau telah mewarisi segala-galanya, tetapi ia sebagai peringatan untuk yang lalai dan pedoman kepada yang berakal.Andai kata wanita tidak memerlukan suami kerana berasa cukup dengan kedua ibu bapanya, tentu ibumu adalah orang yang paling berasa cukup tanpa suami.

Tetapi wanita diciptakan untuk lelaki dan lelaki diciptakan untuk mereka.Wahai puteriku, Sesungguhnya engkau akan meninggalkan rumah tempat kamu dilahirkan dan kehidupan yang telah membesarkanmu untuk berpindah kepada seorang lelaki yang belum kamu kenal dan teman hidup yang baru. Kerana itu, jadilah 'budak' wanita baginya, tentu dia juga akan menjadi 'budak' bagimu serta menjadi pendampingmu yang setia.

Peliharalah sepuluh sifat ini terhadapnya, tentu ia akan menjadi perbendaharaan yang baik untukmu.
Pertama dan kedua, berkhidmat dengan rasa puas serta taat dengan baik kepadanya.
Ketiga dan keempat, memerhatikan tempat pandangan matanya dan bau yang diciumnya. Jangan sampai matanya memandang yang buruk daripadamu dan jangan sampai dia mencium kecuali yang harum daripadamu.
Kelima dan keenam, memerhatikan waktu tidur dan waktu makannya, kerana lapar yang berlarutan dan tidur yang terganggu dapat menimbulkan rasa marah.
Ketujuh dan kelapan, menjaga hartanya dan memelihara kehormatan serta keluarganya. Perkara pokok dalam masalah harta adalah membuat anggaran dan perkara pokok dalam keluarga adalah pengurusan yang baik.
Kesembilan dan kesepuluh, jangan membangkang perintahnya dan jangan membuka rahsianya. Apabila kamu tidak mentaati perintahnya, bererti kamu melukai hatinya. Apabila kamu membuka rahsianya kamu tidak akan aman daripada pengkhianatannya.

Kemudian janganlah kamu bergembira di hadapannya ketika dia bersedih atau bersedih di hadapannya ketika dia bergembira.
Jadilah kamu orang yang sangat menghormatinya, tentu dia akan sangat memuliakanmu.Jadilah kamu orang yang selalu sepakat dengannya, tentu dia akan sangat belas kasihan dan sayang kepadamu.

Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak akan dapat apa yang kamu inginkan sehingga kamu mendahulukan keredaannya daripada keredaanmu, dan mendahulukan kesenangannya daripada kesenanganmu, baik dalam hal yang kamu sukai atau yang kamu benci dan Allah akan memberkatimu.”

Nasihat di atas seharusnya diterima dengan beberapa asas penting:
(Suami yang dicari adalah suami yang beriman lagi taat kepada perintah Allah. Ketaatan kepada suami adalah wajib dengan syarat beliau tidak melakukan perkara yang bertentangan dengan syariat Allah.)

Begitulah hukum Allah, di sana sentiasa ada ‘dua bahagian muka syiling’. Kalau diperhati setiap nasihat di atas, perbuatan kita yang positif akan menghasilkan reaksi dan tindak balas positif juga dengan izin Allah. Saya sering mengingatkan diri sendiri sebagai isteri dari muda hingga sekarang dan masih sangat mempercayai bahawa: "Kita hanya boleh mengubah diri sendiri. Percayalah apabila kita berubah, persekitaran dan orang di sekeliling juga akan berubah secara positif.”